BRAIN Personalities – Okta Wirawan. Founder dan CEO di PT ABINDO yang menaungi Almaz Fried Chicken, lahir di Padang dari keluarga pengusaha. Masa kecilnya penuh dinamika: tujuh tahun pertama ia hidup dalam kecukupan. Orang tuanya memiliki sembilan mobil dan rumah besar ribuan meter persegi.
Namun, badai menghantam pada tahun 1989 ketika usaha orang tuanya bangkrut akibat proyek bermasalah. Kehidupan keluarga pun berubah drastis.
Selama empat tahun, Okta merasakan kerasnya hidup dalam keterbatasan. “Bahkan untuk baju lebaran saja tidak bisa beli,” kenangnya.
Masa sulit itu menorehkan jejak mendalam: ia belajar bahwa hidup bisa berputar, dari puncak menuju dasar, dan kembali lagi. Mental inilah yang membentuknya: terbiasa jatuh, terbiasa bangkit.
Selain itu, satu hal penting yang ditanamkan keluarga adalah “mencari uang lewat bisnis, bukan lewat kerja.” Bagi Okta, bisnis adalah jalan alami untuk bertahan hidup.
Baca juga: Perjalanan Karier dan Bisnis Pemilik Roti O
Laundry yang Meledak, Awal Karier Wirausaha Okta Wirawan
Ketika kuliah di Bogor, Okta mulai berbisnis. Ide pertamanya sederhana: membuka usaha laundry.
Kota hujan Bogor dengan banyaknya kos-kosan mahasiswa menghadirkan masalah: pakaian lembab, selimut jarang dicuci, dan keterbatasan tempat menjemur. Laundry menjadi solusi tepat.
Benar saja, usaha laundry itu langsung diterima pasar. Bahkan berkembang pesat dengan delapan cabang.
Pada titik ini, Okta belum merasakan pahitnya kegagalan. Ia merasa bisnis adalah jalan lurus penuh keberhasilan.
Namun, ujian berikutnya segera datang.
![]()
Trauma Bisnis karena Serabi Enhai yang Gagal Total
Setelah sukses dengan laundry, Okta mencoba usaha lain: waralaba Serabi Enhai dari Bandung. Ia membuka cabang di Bogor, berharap bisa mengulang sukses. Namun, sejak bulan pertama, usaha ini sudah merugi.
Ada banyak kesalahan:
- Target pasar tidak tepat. Serabi sejatinya makanan malam, sementara lokasi berdampingan dengan SMA—pasarnya siang.
- Rantai pasok bermasalah. Serabi butuh arang kayu rambutan berkualitas, namun sulit didapat di Bogor. Bahkan, Okta sempat dikejar pedagang arang dengan golok karena masalah harga dan kualitas.
- Operasional tidak efisien. Restoran tiga lantai memerlukan banyak karyawan, membuat biaya membengkak.
Hanya bertahan delapan bulan, bisnis ini tutup. Lebih menyakitkan, Okta meninggalkan utang kepada karyawan. “Setiap mikirin gaji karyawan, saya bisa mencret-mencret karena stress,” ujarnya blak-blakan.
Trauma pun datang. Okta sempat berpikir: mungkin jalan hidupnya bukan menjadi pengusaha. Ia lalu memutuskan bekerja sebagai karyawan. Masa itu berlangsung 15 tahun lamanya.
Baca juga: Kisah Insipratif Founder & CEO BRAIN Personalities
Menjadi Profesional di Perusahaan Jadi Pengalaman Berharga
Okta mengakui pernah menjadi profesional di Carefour, sebuah perusahaan global yang bergelut di bidang ritel.
Menjadi seorang profesional merupakan pengalaman berharga karena ia semakin memahami seluk beluk bisnis dan bagaimana operasional perusahaan bekerja efektif.
Meski sempat merasa nyaman dengan sebagai profesional, jiwa wirausahanya pun masih tetap tumbuh. Ini menjadi langkahnya untuk bangkit menjadi seorang wirausahawan yang lebih matang.
Okta Wirawan Kembali ke Dunia Bisnis: Jatuh Bangun 8 Brand
Meski bekerja, jiwa wirausahanya tak pernah padam. Dalam perjalanan 25 tahun terakhir, Okta mencoba total delapan brand bisnis. Enam diantaranya gagal dan tutup, dari mulai kuliner hingga usaha lainnya.
Namun, setiap kegagalan menghadirkan pelajaran baru. Ia menyadari: bisnis bukan hanya soal “memberi solusi,” tapi juga tentang eksekusi, supply chain, strategi pasar, hingga manajemen SDM.
Belajar dari pengalaman panjang itu, lahirlah Almaz Chicken.
![]()
Lahirnya Almaz Fried Chicken: Alternatif Lokal yang Diterima Pasar
Sekitar 8 tahun terakhir, Okta kembali membangun bisnis serius. Dari sekian usaha, Almaz Chicken menjadi titik balik.
Almaz lahir bukan hanya karena momentum tren boikot terhadap produk multinasional, melainkan juga karena kualitas produk yang benar-benar bisa diterima lidah masyarakat Indonesia.
Ayam goreng Almaz menghadirkan rasa khas lokal dengan standar kualitas baik, sehingga masyarakat memiliki alternatif selain brand besar asing.
“Alhamdulillah, banyak orang senang karena akhirnya ada brand lokal dengan kualitas oke,” kata Okta.
Perjuangan Almaz tidak instan. Ia menegaskan, “Orang melihatnya mungkin langsung sukses, padahal ini proses 25 tahun.”
Baca juga: Kisah Karier dan Bisnis Owner Rocket Chicken
Mental Tangguh dari Masa Kecil
Menghadapi jatuh bangun bisnis, Okta merasa tempaan masa kecil menjadi fondasi terkuat. Ia sudah terbiasa melihat orang tuanya kaya, lalu bangkrut, lalu bangkit lagi.
Mental itulah yang membuatnya tidak mudah menyerah.
“Kalau orang tua PNS, mungkin mindset saya cari uang dari kerja. Tapi karena orang tua pengusaha, sejak kecil saya tahu cari uang dari bisnis. Itu software yang membentuk saya,” jelasnya.
![]()
Nilai Hidup: Bisnis Harus Jadi Solusi, Tapi…
Pengalaman panjang mengajarkan Okta bahwa bisnis harus menjadi solusi. Laundry sukses karena memberi solusi nyata untuk mahasiswa Bogor.
Namun, ia juga belajar bahwa solusi saja tidak cukup.
Bisnis harus ditopang eksekusi yang tepat, manajemen yang sehat, dan supply chain yang kuat. Kesalahan kecil bisa membuat bisnis runtuh, seperti dialaminya di Serabi Enhai.
Baca juga: Perjuangan Kemanusiaan dr. Lie Dharmawan, Pendiri dokterSHARE dan Rumah Sakit Apung
Filosofi Bangkit dan Berkarya dari Founder dan CEO Almaz Fried Chicken
Bagi Okta, trauma kegagalan adalah hal nyata. Namun, ia memilih untuk bangkit. Bahkan, kegagalan itu kini menjadi modal berharga.
“Kalau dulu saya punya coach, mungkin tidak perlu habisin banyak waktu dan dana,” ujarnya.
Refleksi ini menunjukkan bahwa bagi Okta, belajar dari pengalaman orang lain sama pentingnya dengan belajar dari pengalaman pribadi.
Kini, lewat Almaz Chicken, ia ingin menunjukkan bahwa brand lokal bisa bersaing, bahkan menjadi pilihan utama masyarakat.
![]()
Manajemen Almaz Fried Chicken Berbasis Budaya Islam
Tidak seperti budaya manajemen pada umumnya yang menekankan profesionalisme, Manajemen Almaz sangat mengutamakan Prinsip-prinsip Islam di perusahaan.
Misalnya, apabila seorang karyawan terbukti tidak melaksanakan sholat fardhu, maka manajemen memiliki hak untuk memecat karyawan tersebut.
Selain itu, manajemen juga memiliki kebijakan untuk para karyawan agar rutin membaca Al Quran minimal 1 halaman per hari.
Okta memahami bahwa pada awalnya kebijakan ini terkesan memaksa. Namun, justru dari sinilah terbentuk kebiasaan dan pada akhirnya para karyawan mulai mencintai kebijakan-kebijakan Islami tersebut.
Baca juga: Kisah CEO Kopi Janji Jiwa Menemukan Ide Bisnis
Komitmen Okta Wirawan dan Para Mitra Franchise Almaz Fried Chicken untuk Kemanusiaan
Sebagai seorang muslim, Okta menyadari bahwa ia tidak bisa diam membiarkan hak kemanusiaan Penduduk Palestina di Gaza dikebiri oleh Israel. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk berperan aktif membantu melalui sisi ekonomi.
Panggilan hati inilah yang membuat Okta mengambil kebijakan untuk mendonasikan 5 persen penjualan dari setiap outlet Almaz Fried Chicken untuk program kemanusiaan di Palestina.
Alhasil, kebijakan manajemen ini pun disambut baik oleh para Mitra Franchise Almaz Fried Chicken yang memiliki semangat sama untuk kemanusiaan.
Okta menekankan bahwa kebijakan ini bukan karena dirinya, melainkan ini juga kontribusi para franchisee dari Almaz yang memiliki komitmen yang sama.
Apabila berminat menjadi mitra Almaz Fried Chicken, Sobat BRAIN dapat menghubungi via Instagram dengan klik link di bio.
![]()
Inspirasi dari Perjalanan Okta Wirawan
Kisah Okta Wirawan adalah kisah tentang mental tahan banting, jatuh bangun bisnis, dan pentingnya belajar dari kegagalan.
Dari anak pengusaha yang bangkrut, mahasiswa yang sukses membangun laundry, pengusaha serabi yang gagal total, hingga karyawan belasan tahun—semua proses itu mengantarkannya pada lahirnya Almaz Chicken.
Almaz bukan sekadar bisnis ayam goreng. Ia adalah simbol ketekunan, keberanian, dan cinta pada produk lokal.
Bagi para calon pengusaha, perjalanan Okta menjadi pengingat: sukses tidak pernah instan. Butuh proses panjang, kesabaran, kegagalan, dan keyakinan untuk terus bangkit.
Okta juga menyadari pentingnya seorang business coach dalam memulai bisnis. Ia berpesan agar bekerjasama dengan profesional ini agar tidak mengalami kegagalan seperti dirinya dulu.
